Pembangunan Sekolah Rakyat di Singkawang Terkendala Dua Makam Tua, Pemerintah Cari Ahli Waris
- account_circle Metro Singkawang
- calendar_month Rabu, 5 Agt 2026
- print Cetak

Dua makam tua ditemukan di lokasi pembangunan Sekolah Rakyat Singkawang. Pemerintah Kalbar mencari ahli waris sebelum proyek dilanjutkan. Foto: Rinto Andreas
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MetroSingkawang.com – Pembangunan sekolah berhadapan dengan dua jejak masa lalu. Rencana pembangunan Program Sekolah Rakyat di Desa Sakong, Kelurahan Sagatani, Kecamatan Singkawang Selatan, dihadapkan pada temuan dua makam tua yang berada di dalam area pembangunan.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat kini membuka pencarian ahli waris maupun masyarakat yang mengetahui identitas kedua makam tersebut sebagai langkah awal sebelum proses pembangunan dilanjutkan.
Kepala Pelaksana Utama Proyek Pembangunan Sekolah Rakyat Provinsi Kalimantan Barat, Wildan, mengatakan temuan tersebut diperoleh berdasarkan hasil inventarisasi lapangan. Menurutnya, kedua makam diperkirakan telah berusia cukup lama dan hingga kini belum diketahui secara pasti identitas maupun ahli warisnya.
“Sebelum mengambil langkah lebih lanjut, kami membuka kesempatan kepada masyarakat yang merasa memiliki hubungan keluarga atau mengetahui informasi mengenai makam-makam tersebut untuk menyampaikan keterangan kepada panitia,” ujar Wildan, Sabtu (1/8/2026).
Ia menegaskan, pemerintah bersama pihak pelaksana pembangunan menghormati keberadaan setiap makam sebagai bagian dari nilai kemanusiaan, sejarah, dan budaya. Seluruh informasi yang disampaikan masyarakat nantinya akan diverifikasi sesuai ketentuan yang berlaku.
Apabila hingga batas waktu yang telah diumumkan tidak terdapat pihak yang dapat menunjukkan hubungan sebagai ahli waris maupun memberikan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan, maka penanganan selanjutnya akan dilakukan sesuai peraturan perundang-undangan dengan tetap mengedepankan penghormatan terhadap jenazah dan nilai-nilai kemanusiaan.
Wildan mengajak seluruh masyarakat untuk mendukung proses tersebut secara bijaksana agar pembangunan Sekolah Rakyat dapat berjalan lancar dan memberikan manfaat bagi masyarakat, khususnya dalam meningkatkan akses pendidikan.
Selain itu, pihak pelaksana juga mempertimbangkan aspek keselamatan di lokasi pembangunan. Menurut Wildan, kondisi lahan yang berpotensi mengalami longsor dapat membahayakan bangunan sekolah maupun keselamatan peserta didik apabila tidak segera ditangani.
“Kita khawatir terjadi longsor yang bisa menimpa bangunan sekolah, terlebih nantinya ada anak-anak yang sedang menjalani kegiatan belajar mengajar,” katanya.
Ia memastikan, apabila keberadaan keluarga atau ahli waris telah diketahui, proses pemindahan makam akan dilakukan melalui musyawarah bersama dengan mengedepankan kesepakatan semua pihak. “Mungkin dari segi biaya kita bisa membantu sebagai bentuk dukungan. Nanti semuanya akan dibicarakan dan disepakati bersama melalui musyawarah,” ungkapnya.
Melalui pemberitahuan tersebut, pemerintah mengimbau masyarakat yang merasa sebagai keluarga atau ahli waris, maupun yang memiliki informasi mengenai kedua makam tua tersebut, agar segera menghubungi panitia atau pihak pelaksana pembangunan.
Langkah itu diharapkan dapat mempercepat penyelesaian persoalan secara baik, bermartabat, serta sesuai ketentuan hukum, sehingga pembangunan Program Sekolah Rakyat dapat segera direalisasikan demi kepentingan pendidikan masyarakat. (Rin)
- Penulis: Metro Singkawang

Saat ini belum ada komentar