Dentuman Meriam Karbit Getarkan Sungai Singkawang, Tjhai Chui Mie: Simbol Budi Pekerti yang Tak Tergantikan Teknologi
- account_circle Hms/Tim
- calendar_month Sabtu, 14 Mar 2026
- print Cetak

Wali Kota Tjhai Chui Mie buka Festival Meriam Karbit & Laggum di Taman Burung. Tradisi Melayu ini jadi ikon budaya dan penggerak ekonomi di Ramadan 2026. (Foto: Istimewa)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MetroSingkawang.Com — Dentuman meriam karbit saling bersahutan di kedua sisi Sungai Singkawang, tepatnya di kawasan Taman Burung, pada Rabu (11/3/2026) malam. Meski sempat diguyur hujan, Festival Meriam Karbit dan Laggum Kampung tetap berlangsung meriah. Ratusan warga tampak memadati lokasi untuk menyaksikan bagian dari rangkaian Singkawang Ramadan Fair 2026 tersebut.
Festival dibuka langsung oleh Wali Kota Singkawang, Tjhai Chui Mie. Ia hadir didampingi Wakil Wali Kota Muhammadin serta jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda).
Pada pembukaan acara, Tjhai Chui Mie dan Muhammadin sempat mencoba menyulut meriam karbit bersama warga. Keduanya antusias menyulut sumbu untuk menghasilkan suara dentuman terbaik yang menggetarkan tepian sungai.
Tjhai Chui Mie menegaskan bahwa meriam karbit dan laggum bukan sekadar permainan tradisional biasa. Tradisi ini telah menjadi ikon budaya masyarakat Melayu setiap bulan Ramadan yang wajib dijaga keberlanjutannya.
“Festival meriam karbit ini merupakan bagian dari upaya kita merawat budaya bangsa, khususnya budaya Melayu,” ujar Tjhai Chui Mie pada Rabu (11/3/2026) malam.
Wali Kota menilai nilai-nilai budaya memiliki peran vital dalam membentuk adab dan budi pekerti masyarakat. Hal ini menurutnya menjadi sesuatu yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh kemajuan teknologi digital.
“Ilmu bisa digali melalui teknologi informasi yang berkembang pesat. Namun nilai budi pekerti yang terkandung dalam budaya tidak dapat diajarkan melalui teknologi,” jelasnya.
Ia berharap kegiatan budaya ke depan terus dikemas mengikuti perkembangan zaman. Tujuannya agar memiliki daya tarik lebih luas, baik sebagai potensi wisata budaya maupun penggerak ekonomi daerah.
“Jika dikemas dengan baik, festival ini berpotensi menjadi daya tarik wisatawan untuk berkunjung ke Singkawang,” tambahnya.
Ramadan tahun ini juga dinilai bukan hanya momentum meningkatkan keimanan. Tjhai Chui Mie melihat adanya pergerakan ekonomi masyarakat yang nyata melalui berbagai agenda di Singkawang Ramadan Fair.
“Selain kegiatan pengembangan iman dan takwa, kita juga melihat banyak aktivitas ekonomi yang tumbuh selama Ramadhan,” tuturnya.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Muhammadin menegaskan komitmen Pemkot Singkawang dalam mendukung penuh kegiatan kebudayaan. Ia menilai dampak positifnya sangat besar terhadap kesejahteraan masyarakat lokal.
“Pemkot akan selalu mendukung kegiatan yang bertujuan mengembangkan kebudayaan karena dampaknya besar terhadap perekonomian dan kesejahteraan masyarakat,” ujar Muhammadin.
Muhammadin juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus menjaga keberagaman. Ia menekankan bahwa perbedaan yang ada di Singkawang merupakan kekuatan utama dalam membangun daerah.
“Keberagaman adalah takdir dari Tuhan. Mari kita rawat tanpa sibuk mencari perbedaan, tetapi menjadikannya kekuatan untuk meraih kesejahteraan,” pungkas Muhammadin.
- Penulis: Hms/Tim
- Editor: Abu Alif

Saat ini belum ada komentar