107 Guru di Singkawang Ikuti Bimtek Penanganan Anak Berkebutuhan Khusus
- account_circle Metro Singkawang
- calendar_month Kamis, 21 Mei 2026
- print Cetak

Pemerintah Kota Singkawang memperkuat pendidikan inklusif melalui bimtek bagi 107 guru TK hingga SMP untuk meningkatkan kapasitas penanganan anak berkebutuhan khusus di sekolah reguler. Foto: dok Humas Singkawang
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MetroSingkawang.com — Pemerintah Kota Singkawang terus memperkuat pelaksanaan pendidikan inklusif bagi anak berkebutuhan khusus melalui kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Peningkatan Kapasitas Guru dalam Penanganan Anak Istimewa.
Kegiatan yang digelar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Singkawang itu berlangsung di UPTD Layanan Disabilitas dan Pendidikan Transisi (LDPT), Selasa (19/5/2026), dan diikuti sebanyak 107 guru dari jenjang TK hingga SMP.
Bimtek tersebut bertujuan meningkatkan pemahaman guru mengenai strategi pembelajaran inklusif serta pendekatan psikologis dalam mendampingi anak berkebutuhan khusus di sekolah reguler.
Kepala UPTD LDPT Kota Singkawang, Eka Meiyanti, mengatakan pemahaman karakteristik anak berkebutuhan khusus menjadi langkah awal yang penting sebelum guru menerapkan metode pembelajaran.
“Guru harus memahami dulu karakteristik anak-anak istimewa ini. Kalau sudah memahami, pendekatan psikologis dan strategi pembelajaran akan lebih mudah diterapkan di sekolah inklusif,” kata Eka.
Menurut dia, pendampingan terhadap anak berkebutuhan khusus juga membutuhkan keterlibatan orang tua agar proses pembinaan berjalan berkelanjutan. “Guru tidak hanya mendampingi di sekolah, tetapi juga harus menjalin komunikasi dengan orang tua agar penanganan anak dapat dilakukan bersama-sama,” ujarnya.
Eka menambahkan, Pemerintah Kota Singkawang saat ini telah menyiapkan 10 sekolah inklusif mulai tingkat SD hingga SMP. Untuk tingkat SD, sekolah inklusif tersebut terdiri dari SDN 10 Singkawang, SDN 27, SDN 42, SDN 64, dan SDN 87 Singkawang. Sedangkan tingkat SMP meliputi SMPN 4, SMPN 5, SMPN 6, SMPN 8, dan SMPN 11 Singkawang.
Sementara itu, Konselor Ortopedagog Rumah Konseling dan Rumah Belajar Pengharapan Indonesia, EV Lidanial, menilai penanganan anak berkebutuhan khusus harus dilakukan berdasarkan pemahaman terhadap penyebab perilaku anak.
“Kita harus memahami penyebab masalah yang dialami anak. Setelah itu baru bisa menentukan langkah pencegahan maupun penanganannya,” kata Lidanial.
Ia mencontohkan, terdapat anak yang sensitif terhadap suara bising sehingga mudah mengalami tantrum. Karena itu, guru perlu mengetahui kondisi tersebut agar dapat menciptakan lingkungan belajar yang nyaman bagi siswa.
Selain itu, ia juga menyarankan agar setiap sekolah memiliki minimal satu tenaga terapis profesional guna mendukung pendidikan inklusif yang lebih optimal. “Kalau idealnya, satu sekolah memiliki satu terapis ahli agar pendampingan terhadap anak-anak berkebutuhan khusus bisa lebih maksimal,” ujarnya.
Melalui kegiatan ini, Pemerintah Kota Singkawang berharap para guru mampu menjadi pendamping yang lebih adaptif dan profesional dalam mendukung tumbuh kembang anak berkebutuhan khusus di lingkungan sekolah inklusif. (*/)
- Penulis: Metro Singkawang

Saat ini belum ada komentar