Seminar Internasional Dai di Sambas Hadirkan Pembicara Lintas Negara, Fokus Ketahanan Sosial dan Ekonomi Umat
- account_circle Im/Tim
- calendar_month Selasa, 31 Mar 2026
- print Cetak

Kabupaten Sambas gelar Seminar Internasional Dai pada 7–8 April 2026. Menghadirkan Mendagri Tito Karnavian dan tokoh lintas negara untuk bahas pembangunan perbatasan. (Grafis: Ist)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MetroSingkawang.Com — Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, bersiap menjadi pusat perhatian dunia dakwah dengan menjadi tuan rumah Seminar Internasional Dai yang akan digelar pada 7–8 April 2026. Perhelatan besar yang dipusatkan di Aula Kantor Bupati Sambas ini mengangkat tema strategis, yaitu “Sinergitas Dai dalam Pembangunan di Wilayah Perbatasan Negara”.
Seminar ini menggunakan skema call for papers dan dijadwalkan menghadirkan sejumlah pembicara kunci tingkat nasional hingga internasional.
Beberapa tokoh utama yang akan hadir di antaranya adalah Bupati Sambas Satono, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, serta YB Dato Sri Stephen Rundi Utom sebagai perwakilan dari Sarawak, Malaysia.
Selain tokoh pemerintahan, forum ini juga diramaikan oleh pakar lintas negara seperti Prof. Dr. Nik Abdul Rakib bin Nik Hassan dari Thailand dan Dr. H. Muhammad Hadi bin Muhammad Melayong dari Brunei Darussalam.
Kegiatan ilmiah ini akan dibagi ke dalam beberapa sesi paralel yang mencakup subtema krusial, mulai dari dakwah dan ketahanan sosial hingga kedaulatan pangan dan ekonomi umat.
Persoalan studi lintas negara antara Indonesia dan Malaysia serta sejarah panjang dakwah di kawasan Borneo juga menjadi materi diskusi yang sangat dinantikan para peserta.
Rangkaian agenda ini sebenarnya telah dimulai sejak proses pengumpulan abstrak pada Maret lalu, sementara sesi presentasi akan dilangsungkan bertepatan dengan hari pelaksanaan seminar.
Bupati Sambas, Satono, yang juga menjabat sebagai Ketua Persaudaraan Muslimin Indonesia (Parmusi) Provinsi Kalimantan Barat, menyambut hangat pelaksanaan acara ini.
Bagi Satono, seminar ini merupakan momentum penting untuk memperkuat peran para dai dalam mendukung akselerasi pembangunan, terutama di wilayah yang berbatasan langsung dengan negara tetangga.
Bupati yang memiliki latar belakang sebagai seorang dai ini menilai sinergi antara ulama, pemerintah, dan masyarakat adalah kunci dalam menghadapi tantangan sosial budaya saat ini.
“Melalui seminar ini, kita ingin membangun kolaborasi yang kuat, sehingga dakwah tidak hanya berfungsi sebagai penyampai nilai-nilai keagamaan,” ujar Satono.
Ia berharap hasil dari pertemuan internasional ini dapat memberikan kontribusi nyata dalam pembangunan daerah, khususnya bagi masyarakat yang bermukim di kawasan perbatasan.
Kolaborasi ini diharapkan mampu mengubah wajah dakwah menjadi instrumen pembangunan yang lebih inklusif dan solutif bagi persoalan ekonomi serta sosial di pelosok negeri.
Pemerintah Kabupaten Sambas optimis bahwa kehadiran para tokoh dari berbagai negara ini akan semakin mempererat hubungan diplomatik dan keagamaan di wilayah regional Borneo.
- Penulis: Im/Tim
- Editor: Abu Alif

Saat ini belum ada komentar