Jadi Percontohan Nasional, Tjhai Chui Mie Paparkan Rahasia Singkawang Kota Tertoleran di Rakornas FKUB
- account_circle Hms/Tim
- calendar_month Kamis, 5 Feb 2026
- print Cetak

Wali Kota Tjhai Chui Mie paparkan praktik kebijakan toleransi Singkawang di Rakornas FKUB Kemendagri. Inklusivitas dan pendidikan Pancasila jadi strategi utama. (Foto: Hms)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MetroSingkawang.Com — Pemerintah Kota Singkawang mendapatkan kehormatan menjadi narasumber dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) yang diselenggarakan oleh Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia.
Dalam forum bergengsi tersebut, Kota Singkawang memaparkan berbagai praktik kebijakan toleransi yang berhasil mengantarkan kota ini meraih predikat sebagai Kota Toleran Tahun 2025. Paparan disampaikan langsung oleh Wali Kota Singkawang, Tjhai Chui Mie, secara daring dari TCM Room Kantor Wali Kota pada Rabu, 4 Februari 2026.
Tjhai Chui Mie menegaskan bahwa napas toleransi di Singkawang merupakan warisan nilai dari para leluhur yang harus dirawat secara konsisten. Baginya, pemerintah daerah memegang tanggung jawab besar untuk menjaga nilai tersebut melalui kebijakan publik yang mempererat ikatan sosial antarwarga.
“Toleransi ini adalah warisan berharga. Pemerintah berkebajikan melahirkan kebijakan dan program yang melibatkan seluruh unsur masyarakat tanpa melihat latar belakang suku maupun agama,” ungkap Tjhai Chui Mie pada Rabu (4/2/2026).
Ia menjelaskan bahwa komitmen tersebut telah dituangkan secara konkret ke dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) melalui penguatan prinsip inklusivitas. Langkah ini memastikan setiap aspirasi masyarakat dijaring dengan mengedepankan asas keadilan dan kesetaraan bagi semua golongan.
Menurut Tjhai Chui Mie, kebersamaan di Singkawang bukan sekadar slogan, melainkan praktik nyata yang terlihat dalam setiap perayaan keagamaan besar. Seluruh organisasi kemasyarakatan (ormas) dan lintas agama selalu dilibatkan aktif, baik dalam teknis kepanitiaan maupun pengamanan lapangan.
“Dalam perayaan Cap Go Meh, Idul Fitri, Natal, dan kegiatan keagamaan lainnya, seluruh ormas keagamaan selalu dilibatkan. Ini menjadi kekuatan utama dalam menjaga harmoni di Singkawang,” jelasnya.
Menanggapi dinamika isu intoleransi yang sering kali muncul terkait pendirian rumah ibadah di berbagai wilayah, Tjhai Chui Mie berpendapat bahwa pendekatan regulasi saja belum cukup efektif. Ia memberikan penekanan pada langkah preventif melalui jalur edukasi sejak dini.
Pendidikan karakter yang berbasis pada nilai-nilai Pancasila di lingkungan sekolah dinilai sebagai kunci utama untuk memutus rantai intoleransi agar tidak tumbuh di masa depan.
“Aturan memang sudah ada, tetapi pencegahan harus dimulai lebih awal. Pendidikan karakter Pancasila sejak di bangku sekolah menjadi kunci agar intoleransi tidak tumbuh,” pungkas Wali Kota.
Kehadiran Singkawang dalam forum nasional ini diharapkan dapat memberikan inspirasi bagi daerah lain di Indonesia dalam membangun harmoni dan kerukunan antarumat beragama di tengah keberagaman bangsa.
- Penulis: Hms/Tim
- Editor: Abu Alif

Saat ini belum ada komentar