Sampah di Singkawang Tembus 120 Ton per Hari, Petugas Kebersihan Kerja Ekstra di Awal Tahun 2026
- account_circle Tim Redaksi
- calendar_month Kamis, 15 Jan 2026
- print Cetak

Sampah di Singkawang Tembus 120 Ton per Hari, Petugas Kebersihan Kerja Ekstra di Awal Tahun 2026. (Foto: Diskominfo)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MetroSingkawang.Com – Petugas kebersihan dari UPT Pengelolaan Sampah Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Singkawang harus bekerja ekstra keras pada awal tahun 2026. Hal ini menyusul lonjakan volume sampah yang mencapai rata-rata 100 ton per hari selama libur Natal dan Tahun Baru, bahkan melonjak hingga 120 ton per hari pada pekan pertama Januari.
Peningkatan drastis ini didominasi oleh sampah organik berupa kulit buah, khususnya durian. Fenomena ini terjadi seiring dengan tingginya aktivitas perdagangan buah musiman dan membeludaknya kunjungan wisatawan ke Kota Singkawang.
Kepala UPT Pengelolaan Sampah DLH Singkawang, Dedi Wahyudi, menjelaskan bahwa tingginya volume sampah ini dipicu oleh masuknya komoditas buah dari berbagai penjuru Kalimantan Barat. Sebagai kota wisata dengan pangsa pasar besar, Singkawang menjadi pusat aktivitas ekonomi yang berdampak pada produksi sampah harian.
“Kalau hanya pedagang buah lokal, mungkin volumenya tidak sebanyak itu. Bayangkan, buah berasal hampir dari seluruh Kalbar, jadi wajar saja volume sampahnya meningkat drastis,” ungkap Dedi pada Senin (12/1/2026).
Dedi menambahkan, percepatan penanganan sampah menjadi prioritas utama untuk menjaga kenyamanan para pelancong yang masih menghabiskan waktu libur di Singkawang hingga awal tahun ini.
“Tentu jangan sampai mereka terganggu oleh sampah yang belum dibereskan. Petugas kami instruksikan bekerja lebih cepat dan intensif di berbagai titik kota,” tambahnya.
Di tengah dedikasi para petugas yang bekerja siang dan malam, Dedi memberikan catatan penting bagi Pemerintah Kota Singkawang. Ia berharap ada dukungan lebih kuat terkait fasilitas pendukung kerja bagi para petugas di lapangan.
Menurutnya, menjaga citra Singkawang sebagai kota wisata memerlukan keseimbangan antara kerja keras petugas dan ketersediaan alat angkut serta infrastruktur yang mumpuni.
“Petugas ini tidak hanya bekerja dengan tenaga dan pikiran, tetapi juga ketulusan hati. Tanpa dukungan sarana prasarana yang memadai, kerja keras mereka bisa menjadi sia-sia,” tegas Dedi.
Selain fokus pada pengangkutan, pihak UPT juga menerapkan kebijakan tegas dalam pengelolaan titik buang sampah. Dedi menegaskan bahwa mulai saat ini, pihaknya tidak lagi menerima sampah yang diangkut menggunakan mobil pribadi maupun kendaraan roda tiga di kantor UPT atau Tempat Penampungan Sementara (TPS).
Langkah ini diambil mengingat akses infrastruktur jalan menuju Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) sudah dalam kondisi baik.
“Sekarang akses jalan menuju TPA sudah bagus. Tidak ada lagi alasan membuang sampah di depo UPT atau TPS. Semua harus langsung dibawa ke TPA di Jalan Wonosari,” pungkasnya.
Dengan kebijakan ini, diharapkan distribusi sampah lebih teratur dan tidak terjadi penumpukan di area publik yang dapat mengganggu estetika serta kesehatan lingkungan kota.
- Penulis: Tim Redaksi
- Editor: Tim Redaksi
- Sumber: Diskominfo

Saat ini belum ada komentar